Kamis, 09 Maret 2017
Senin, 20 Februari 2017
Ketetapan
Dua sisi kehidupan yang telah menjadi Sunatullah, Qada dan Qadar, pasti akan dirasakan setiap insan di muka bumi ini. Senang - Susah, Suka - duka, Tawa - Tangis. Tidak ada yang abadi diantaranya, pasti akan berlalu silih berganti. Setiap yang senang, kesenangan itu pasti akan berakhir, begitu pun sebaliknya, setiap yang susah pasti akan menemukan kesenangan. Begitulah dua sisi kehidupan, ada juga yang mengumpamakan sebagai putaran roda, " roda kehidupan ", dia selalu berputar membuat kehidupan ini seolah olah berada diatas dan dibawah.
Sebagai insan ciptaan Allah SWT, semua itu sudah menjadi ketetapanNya beribu-ribu tahun yang lalu di langit ketujuh ( lauful mahfuz). Kita harus menyakini sepenuhnya, bahwa jalan kehidupan ini telah diatur oleh Allah. Dan kita pun telah diberikan rambu rambu dan petunjuk ( Al Quran dan Hadist) agar ikhlas dan tawakal dalam menjalani ini semua. Allah berfirman " bahwa dunia ini hanya sementara dan senda gurau belaka", "sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan", "tidak akan Ku rubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha untuk merubah nasibnya sendiri". Ayat ayat itu sudah lebih dari cukup untuk kita senantiasa Ikhlas, Sabar dan selalu berusaha (ikhtiar).
Sebagai insan ciptaan Allah SWT, semua itu sudah menjadi ketetapanNya beribu-ribu tahun yang lalu di langit ketujuh ( lauful mahfuz). Kita harus menyakini sepenuhnya, bahwa jalan kehidupan ini telah diatur oleh Allah. Dan kita pun telah diberikan rambu rambu dan petunjuk ( Al Quran dan Hadist) agar ikhlas dan tawakal dalam menjalani ini semua. Allah berfirman " bahwa dunia ini hanya sementara dan senda gurau belaka", "sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan", "tidak akan Ku rubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha untuk merubah nasibnya sendiri". Ayat ayat itu sudah lebih dari cukup untuk kita senantiasa Ikhlas, Sabar dan selalu berusaha (ikhtiar).
Selasa, 05 Januari 2016
Maafkanlah
"Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri " (Bung Karno)
Sedikit demi sedikit, aku telah memahami makna makna yang tersirat dari kata-kata itu. Mempertahankan jauh lebih sulit dari memperebutkan. Begitulah dengan bangsa ini, susahnya menjaga apa yang telah diwariskan, orang orang hebat negeri ini selalu berdebat tentang sistem yang telah dibangun oleh para pendiri negeri ini , masing - masing ingin merubah sistem ini itu agar lebih menguntungkan pihak dan kelompoknya saja.
Begitupun dengan sistem politik hari ini, membawakan kepentingan elite daerah kala itu untuk dapat mempunyai peran besar dalam membangun daerahnya masing - masing (otonomi daerah ). Namun apa yang terjadi, sikap kedaerahan semakin nampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, daerah - daerah mempunyai ego nya masing- masing. Persatuan dan kesatuan menjadi renggang, hadirnya sistem demokrasi langsung di lain sisi telah menggerus rasionalitas pilihan, isu primordial kembali berseliweran, masing-masing dikotakan dalam suku, kelompok, golongan, kekerabatan, dan nyaris di berbagai tempat hilang makna persatuan, kekeluargan dan kebersamaan.
Walau ada yang memaknai ini, adalah bagian dari sebuah proses menuju kematangan yang dikehendaki. Tetapi tentu kematangan itu tidak akan pernah kita dapatkan jika setiap manusia di negeri ini hanya melayani nafsu-nafsunya saja.
Pejuang pejuang kami, maafkanlah cucu cucumu hari ini, nafsu itu telah merenggut cita cita luhurmu. Cita cita yang kau bangun tanpa pamrih, cita cita yang hanya sekedar ingin menyiapkan lahan yang merdeka dari penjajah bagi anak anak cucumu
Sesungguhnya walau tanahnya telah kau bebaskan namun cucu cucumu hari ini masih terjajah oleh Nafsunya sendiri !
Maafkanlah !
Kamis, 31 Desember 2015
Selamat Datang Tahun Keadilan
Kita boleh dikalahkan ! tetapi kebenaran harus diungkap ! dan keadilan harus ditegakan !
Angkuh dan agresif adalah bagian dari kamuflase mereka yang mengisyaratkan kecurangan yang mereka yakini dapat menghantarkan mereka kepada kemenangan yang semu.
Selasa, 29 Desember 2015
Negeri Singa
Dalam kesibukan aktifitas pasca pilkada, saya harus meluangkan waktu untuk menemani belahan jiwa menghadiri salah satu acadanya di Tanjung Pinang, Kepri. Namun, sesampainya disana ada rencana agenda tambahan yaitu menyeberang ke Singapura. Konon kabarnya jaraknya sudah dekat, dari pelabuhan Tanjung Pinang membutuhkan waktu -+ 2 jam lagi.
Keesokan harinya, dari Hotel tempat menginap kami langsung bergegas menuju pelabuhan, Kami mengambil tiket untk penyebrangan yg pertama yaitu pkl. 7. Perjalanan ditempuh dengan sangat seru, ombak begitu tinggi sehingga kami semua terombang ambing didalam kapal Feri yg kami tumpangi, perasaan mual yg kami alami sedikit-sedikit mulai hilang ketika melihat daratan singapur dari kejauhan.
Keesokan harinya, dari Hotel tempat menginap kami langsung bergegas menuju pelabuhan, Kami mengambil tiket untk penyebrangan yg pertama yaitu pkl. 7. Perjalanan ditempuh dengan sangat seru, ombak begitu tinggi sehingga kami semua terombang ambing didalam kapal Feri yg kami tumpangi, perasaan mual yg kami alami sedikit-sedikit mulai hilang ketika melihat daratan singapur dari kejauhan.
Sabtu, 26 Desember 2015
Kamis, 24 Desember 2015
Langganan:
Postingan (Atom)



